Pada postingan kali ini, saya mencoba membuat tulisan yang sedikit berfaedah. Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya untuk kalian yang ingin menginjakan kaki di Korea dalam rangka belajar.

Korea merupakan salah satu destinasi impian para pelajar Indonesia. Bagaimana tidak, teknologi yang berkembang pesat serta kebudayaannya yang populer membuat banyak kaum muda kita ingin mencicipi belajar di negeri Korea. Sebenarnya ada banyak sekali cara yang bisa dilakukan supaya kita bisa belajar di Korea, seperti  kuliah, training, konferensi, maupun exhange.

Oh ya, bagi yang pertama kali berkunjung ke blog saya, perkenalkan saya Gilang. Saya pernah kuliah Master (double degree) di Pukyong National University Busan jurusan Interdisciplinary Program of Information Systems. Saya lulus di Pukyong di tahun 2017.  Saat ini, tepatnya setahun kemudian, saya kembali ke Korea untuk mengikuti program ICT Global Startup 2018.

Master Graduation ketika saya di Pukyong National University


Untuk artikel Kuliah / Belajar di Korea ini saya bagi menjadi dua part. Untuk part pertama ini, saya hanya fokus pada kuliah formal saja. Pada part kedua, saya akan coba bahas tentang belajar non-formal / non-degree di korea, seperti training.


Nah, berikut ini adalah beberapa "pintu" yang bisa kalian coba untuk belajar di Korea:


1. KGSP (Korean Government Scholarship Program)
KGSP adalah beasiswa yang digelontorkan oleh pemerintah korea bagi mahasiswa asing. Menurut saya, KGSP adalah jenis beasiswa yang paling makmur di Korea. Selain mendapatkan beasiswa untuk membayar uang kuliah, penerima KGSP juga mendapatkan uang bulanan.

Beasiswa KGSP ini bisa diambil untuk kamu yang ingin kuliah sarjana atau pascasarjana. Hal menarik dari beasiswa KGSP ini adalah kita diharuskan untuk mengambil program belajar bahasa korea selama satu tahun sebelum kita masuk ke tempat kuliah yang sebenarnya. Walhasil para penerima beasiswa KGSP ini bisa berbahasa korea dengan lancar.

Beasiswa KGSP ini dibuka setiap tahunnya. Untuk kalian yang ingin tahu lebih dalam tentang beasiswa KGSP, kalian bisa coba buka tautan ini:


2. Beasiswa Kampus 

Selain model beasiswa yang diberikan oleh pemerintah korea, terdapat beasiswa lain yaitu beasiswa yang diberikan oleh pihak kampus. Sejauh yang saya tahu, jenis beasiswa ini ada dua jenis, yaitu beasiswa full dan beasiswa parsial.

Mari saya bahas satu per satu


a) Beasiswa full dari kampus
Pada jenis beasiswa ini, penerima beasiswa mendapatkan full funding untuk pembayaran kuliah serta mendapatkan pula uang bulanan. Jenis beasiswa ini biasanya diberikan oleh kampus riset untuk mahasiswa pascasarjana.

Beberapa kampus yang menawarkan beasiswa ini diantaranya adalah:
i. DGIST (Daegu Gyeongbuk Institute of Science and Technology) : https://www.kemlu.go.id/seoul/id/berita-agenda/info-penting/Pages/Beasiswa-DGIST.aspx 


Ini saya cuma ngasih beberapa. Sebenarnya masih banyak. Kalo saya menemukan info lain, saya coba update lagi.

b) Beasiswa partial dari kampus
Jenis beasiswa ini cukup banyak ditawarkan oleh kampus di korea untuk mahasiswa asing. Pada beasiswa jenis ini, mahasiswa mendapatkan keringanan yang bervariasi mulai dari subsidi 30% sampai dengan 80% bergantung pada kebijakan kampus.

Beberapa contoh beasiswa jenis ini yang saya tahu diantaranya:
i. Kumoh National Institut of Technology (http://eng.kumoh.ac.kr/e_new/sub04/Government%20Scholarship.php)
ii. Beberapa kampus menawarkan beasiswa jenis ini seperti Ajou University (Suwon), Pukyong National University (Busan), Kyungsung University (Busan), daaaan masih banyak lagi sebenarnya.

*nanti saya coba update lagi kalo nemu linknya


3. Beasiswa Professor
Pada jenis beasiswa ini, kita dibiayai oleh professor. Professor akan membantu membayar uang kuliah dan juga memberikan uang bulanan pada mahasiswa. Melalui beasiswa ini, ibaratnya kita bekerja pada professor. Uang yang diberikan professor dapat dianggap sebagai "gaji". 

Sebenarnya beasiswa jenis ini ada banyak sekali. Namun, informasinya tidak terlalu tersebar. Biasanya lab member dari professor yang mengetahui beasiswa ini. Jadi kebanyakan lab member yang merefer temannya untuk mendapatkan beasiswa ini. Jadi, kalau kita punya teman yang kuliah di korea, tanyakan saja, ada beasiswa professor engga disana.

Info beasiswa ini juga biasanya tersebar di berbagai website beasiswa seperti web beasiswa perpika (https://www.perpika.kr/category/bealoker/beasiswa/), portal beasiswa korea  (https://beasiswakorea.com/)  atau kadang tersebar di berbagai grup facebook / fanpage beasiswa korea seperti https://www.facebook.com/beasiswa.korea/.

Beasiswa professor ini kadangkala digabung dengan beasiswa kampus yang saya sebutkan pada point sebelumnya. Intinya, beasiswa professor ini pun bergantung pada kebijakan professor atau kampusnya masing masing.

Kalau terkait beasiswa ini, intinya pantengin aja dan banyak banyak cari tahu. Saya kadang dapet info beasiswa ini dari instagram,

4. Beasiswa KOICA (Korea International Cooperation Agency)
Beasiswa ini diberikan pada pegawai pemerintah. Saya tidak begitu paham bagaimana alurnya. Sejauh yang saya tahu, kadang ada kementrian yang menjalin kerjasama dengan beasiswa KOICA. Beberapa teman yang saya kenal ada yang berasal dari LIPI, Kementrian Pekerjaan Umum, dkk. Jadi kalo terkait beasiswa ini, silakan ditanyakan ke institusi tempat kerjanya masing-masing (Bagi yang perprofesi sebagai PNS.

Bagi yang ingin tahu lebih banyak, bisa dibaca dulu artikel ini:  http://www.perpika.kr/beasiswa-program-master-dari-koica/


5. Beasiswa dari Lembaga Lainnya
Selain dari beasiswa yang sudah saya sebutkan diatas, ada beasiswa dari lembaga lain, seperti:
b.  Beasiswa dari Bank Korea, misal Suhyub Bank'

dan masih banyak lagi sebenarnya. Jadi ini tergantung pinter-pinternya kita cari informasi lebih mendalam dan cari lebih banyak koneksi

WRAP UP!
Jadi, bagi kalian yang ingin kuliah di Korea, sebenarnya banget banget nih kesempatannya. Intinya, tinggal seberapa gigih kalian untuk cari informasi, mencari koneksi sebanyak banyaknya, dan mempersiapkan berbagai persyaratannya.

Kalo kalian punya niat yang gigih, saya yakin kalian pasti bisa kok :)
Semangat ya!


---
Selain kuliah di Korea, ada banyak cara lain yang bisa ditempuh untuk belajar di Korea seperti exchange, training program, konferensi, dan lain-lain. Untuk non-formal study, saya bahas di artikel Part 2 saja ya, biar engga kepanjangan.

Kalo ada yang ditanyakan silakan tinggalkan komentar saja.


Read More
Cambie Coffee Shop, Suwon.

Biasanya ketika aku pergi ke suatu coffee shop, aku selalu memesan ice americano. Memang pahit, tapi menenangkan. Seperti kehidupan, kadang pahit tapi bisa juga menyenangkan.

Saat ini aku memilih hazelnut latte. Memang sedang ingin sesuatu yang manis karena hari ini (sedikit) pahit. Perlu penyeimbang.

Segelas hazelnut latte pun ada di depan mata. Manis. Terlalu manis malah. Saya jadi ingin icip americano yang pahit. Karena dibalik kepahitannya, selalu ada cerita.

Manis itu konon bikin diabetes.
Rata-rata obat itu pahit.

Cukup relevan sih.

Dalam kehidupan ini, kadang kita harus bersyukur jika kita mendapatkan hal-hal yang pahit. Di balik kepahitan itu, pasti terdapat pelajaran yang bisa diambil. Di dalam kepahitan itu, ada sesuatu yang bisa membuat kita menjadi dewasa. Melalui kepahitan itu, kita menjadi tahu bahwa manis itu (kadang) menyenangkan.


Semua itu tergantung pada cara kita dalam memandang sesuatu.

Kita cara pandang kita selalu positif, pahit atau manis, asam atau asin, semuanya bermakna. Itu bisa membentuk kita menjadi manusia.

Begitulah cerita yang mungkin (un)faedah tentang aku dan segelas kopi manis.

Read More
Cambie Coffee, Suwon, South Korea, 2018
A place where you can share your mind


“Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply.” 
—Stephen R. Covey.

Definitely.

Kutipan dari Bapak Stephen ini sangat benar adanya. Ketika seseorang menyampaikan sesuatu, tentu ada alasan yang melatarbelakanginya. Hanya saja mungkin terkadang orang tersebut tidak pandai dalam menyampaikan apa yang dia pikirkan. Akibatnya, pernyataan yang ia sampaikan terdengar tidak penting. Lalu, dengan tak tahu diri, kita semena-mena menjawabnya dengan cara yang menghakimi tanpa berusaha untuk memahaminya. That's too bad.

Dulu saya mungkin orang yang seperti itu. Tapi saya tentu saja berusaha untuk menjadi lebih baik. Saya selalu berusaha untuk mendengarkan dengan tujuan memahami apa yang orang lain sampaikan. Sebisa mungkin, saya tidak ingin memberikan prejudgement ataupun judgement apapun.

Pada prinsipnya, ketika seseorang bercerita, intensi utama dari orang tersebut adalah ia ingin di dengarkan, bukan untuk meminta nasihat. Terkecuali, orang tersebut memang mengatakan bahwa ia ingin mendapatkan nasihat.

Saat orang lain bercerita dan mungkin kita ingin memberikan nasihat, sebisa mungkin tanya terlebih dahulu pada orang tersebut, misalnya aku boleh ngasih saran engga? Ini sebagai pelantara aja sih. Supaya tidak terlalu terkesan menghakimi.

Lastly,


Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kita ini adalah manusia. Kau dan aku itu manusia. Jadi sebisa mungkin, perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Dengarkan orang lain sebagaimana kita juga ingin didengarkan. Dan coba pahami orang lain sebagaimana kita juga ingin dipahami.




Pulang ke pelukanmu. Tentramnya telinga yang mendengar tanpa menghakimi
- Lagu Untukmu, Raisa.


Read More
Malam ini saya berkesempatan untuk makan malam bersama dengan government staff yang datang dari 17 negara. Pada government staff tersebut kebetulan sedang mengikuti acara bertema pendidikan yang diadakan oleh pemerintah Korea. Di hari itu, mereka mendatangi tempat kami di Startup Kampus Pangyo.


Kami makan di sebuah restoran buffet dekat Pangyo Station. Ketika kami hadir di restoran tersebut, semua government staff sudah berada di lokasi. Mereka sengaja mengosongkan salah satu bagian dan mengisi bagian yang lain dengan tujuan supaya kami - para peserta ICT global startup - bisa bergabung dengan mereka. 

Saat itu, tanpa berpikir apapun saya duduk di kursi kosong semeja dengan dua orang delegasi dari India. Delegasi dari India tersebut bernama Prof. Prandan dan Prof. Pinky.  Oh ya, sekedar informasi, government staff yang saya maksudkan bukanlah staff biasa, mereka adalah para petinggi di kementrian pendidikan negaranya masing - masing. 

Kiri saya: Prof Pinky, kanan saya: Prof Prandan



Kami membicarakan tentang banyaknya orang India yang mahir dalam IT, terutama dalam hal programming. Selain itu, banyak pula orang India yang menjadi top management dari perusahaan besar dunia, sebut saja CEO Google saat ini yaitu Sundar Pichai yang merupakan keturunan India, meskipun ia sudah menjadi warga negara United States.

Ternyata Prof Prandan memiliki pandangan yang lain. Ia mengakui bahwa Ia bangga karena banyak orang India yang menjadi expert di bidang IT. Namun sejalan dengan fakta tersebut, Prof. Prandan merasa prihatin. Menurutnya, kebanyakan expert IT India tersebut berkarir di luar India, seperti di United States dan Kanada. Sebaliknya, atmosfer enterprenership di India tidak begitu berkembang dengan baik.

"Kami sudah mencoba menanam benih di negara kami, kami jaga sepanjang waktu. Namun ketika berbuah, buah tersebut dipanen oleh orang lain." Begitulah pandangan Prof. Prandan terkait dengan keadaan India saat ini. Beliau juga mengeluhkan banyak saudaranya yang memiliki anak yang expert di bidang IT, namun mereka juga pergi dan tinggal di luar negeri. Akibatnya, banyak orang tua yang merasa kesepian dan merasa diasingkan oleh anak-anaknya. Sang anak memilih tinggal di luar negeri atau bahkan berpindah kewarganegaraan dengan alasan life quality. Menurut Prof. Prandan, life quality yang dimaksud sangat bersifat materialistis, seperti rumah megah dan mobil mewah. Ia sangat menyayangkan hal ini.

Oleh karena itu, Prof. Prandan ingin menciptakan lingkungan kewirausahaan atau enterpreneurship yang kondusif. Tujuannya adalah supaya para expert tersebut bisa tetap tinggal di negaranya dan pada akhirnya menciptakan lapangan pekerjaan yang semakin besar. Pada akhirnya, lingkungan seperti ini akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang semakin baik.


Menarik.

Saya pikir, pun begitu dengan Indonesia. Perkembangan enterpreneurship di Indonesia sudah mulai terlihat. Tapi, untuk tercipta lingkungan yang kondusif dan berkesinambungan memang perlu usaha yang lebih keras dari berbagai macam pihak, terutama dari pemerintah dan lingkungan pendidikan formal.
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda