Jika Kita Berbicara Mimpi…

No Comments



Sorce : http://febrianhadi.files.wordpress.com/2010/05/mimpi.jpg

Berikut adalah potongan episode kehidupan seseorang, katakanlah Si Fulan dalam hal menargetkan mimpinya  :

//Saat Si Fulan berusia 5 tahun
Ibu Fulan                    : Kalo udah gede, Fulan mau jadi apa?
Fulan                           : Aku mau jadi PRESIDEN INDONESIA ~~~.

Wah keren ya, kalo semua anak mempunyai cita-cita seperti Si Fulan, pasti Republik Indonesia akan menjadi Negara yang maju.

//Saat Si Fulan berusia 10 tahun.
Ibu Guru                         : Apa cita-citamu Fulan?
Fulan                           : Aku ingin menjadi dokter. Dokter adalah pekerjaan yang sangat mulia karena dapat menyembuhkan orang yang sakit.

//Saat Si Fulan berusia 15 tahun.
Teman sekolah                : Cita-citamu apa sih?
Fulan                           : Yang penting saya bias menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan Negara.
Kok cita-citanya jadi bias ya? 

//Saat Si Fulan berusia 19 tahun
Teman kuliah              : Sekarang, apa mimpi mu?
Fulan                           : Mmm… yang penting jadi orang yang sukses aja deh..

Dari cuplikan episode kehidupan diatas, rasanya semakin kita dewasa, mimpi kita itu menjadi semakin abstrak ya? Padahal mimpi itu haruslah hal yang pasti, agar kita bisa meraihnya dengan pasti pula.
Tetapi apa sih yang membuat mimpi kita itu abstrak? Jawabannya adalah karena kita terlalu takut untuk bermimpi. Oleh Karena itu, kita pun jadi merasa malas untuk bermimpi sehingga bila kita ditanya tentang mimpi kita, yang akan muncul adalah suatu mimpi yang terlalu abstrak.

Teknologi yang kita nikmati saat ini bisa ada juga karena mimpi penemunya. Kalau kang Thomas Alpha Edison tidak memiliki mimpi untuk mennciptakan bola lampu, mungkin saja saat ini kita masih menggunakan lampu petromaks. Kalau Kang Martin Cooper tidak memiliki mimpi untuk menciptakan alat komunikasi mobile (handphone), mungkin kita tidak masih harus mengantri ke wartel bila ingin menghubungi seseorang. Dan Kalau Kang Mark Zuckerberg tidak memiliki mimpi untuk menciptakan social networking Facebook, mungkin saya (ataupun teman-teman mamen) tidak akan pernah mengenal Mahamentor (hehehe.. Efek tau mahamentor dari fb).

Kalo kita mau bermimpi, jangan setengah –setengah ya.. Karena kalo mimpinya setengah – setengah, dapetnya juga setengah setengah juga atau bahkan ga dapet sama sekali.  Oleh karena itu, buatlah mimpi setinggi mungkin agar kita bisa terus termotivasi dan tertantang . Kita bisa mengambil pelajaran (lagi) dari kang Thomas Alpha Edison. Karena mimpi beliau untuk menciptakan bola lampu sangat tinggi, usaha yang ia keluarkan juga sangat maksimal. Kang Thomas sudah melakukan percobaan ribuan kali untuk menciptakan bola lampu. Tetapi ia tidak pernah menyerah karena ia selalu termotivasi oleh mimpinya tersebut. Apabila kang Thomas ditanya apakah ia pernah gagal dalam percobaan untuk menemukan bola lampu, ia akan menjawab ‘saya tidak pernah gagal’. Ketidakberhasilan dalam percobaan yang orang lain anggap sebagai kegagalan, disebut keberhasilan oleh kang Thomas. Kok gitu? Karena kang Thomas beranggapan bahwa bila kegagalannya adalah suatu keberhasilan karena berhasil menemukan kesalahan dalam percobaannya sehingga ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Itulah semangat dari sebuah mimpi.

Jadi, Beranikanlah diri untuk Bermimpi !!!


Tinggalkanlah gengsi,
hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi,
agar semua terjadi.
(Bondan ft. Fade 2 Black – Hidup berawal dari mimpi)


                                                                                                               
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar