Sholat Jumat di Korea : Masjid Al-Fattah, Dusil, Busan

No Comments
Jumat, 4 Maret 2016

Rintik rintik air mengiringi langkah kaki saya untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim di hari Jumat. Sebagai seorang minoritas, melaksanakan sholat jumat menjadi suatu tantangan tersendiri. Di Indonesia, masjid hampir dapat ditemui di setiap RW, tempat umum, sekolah, rumah sakit, pusat kota, dan berbagai tempat lainnya. Namun di negeri ginseng ini, menemukan sebuah masjid menjadi suatu keistimewaan tersendiri.

Saya tinggal di daerah Daeyeon, Busan (PKNU Dormitory). Terdapat dua tempat sholat jumat yang dapat dikunjungi. Tempat terdekat berada pada daerang Sasang. 30-40 menit perjalanan dari kampus PKNU dengan menggunakan subway. Namun tempat solat di sasang merupakan sebuah mushola yang terletak pada lantai 2 sebuah gedung. Tempat lainnya adalah Masjid di daerah Dusil. Jaraknya cukup jauh dibandingkan dengan sasang. Perlu waktu sekitar 50-60 menit untuk sampai disana. Karena saya dan teman-temanan khawatir tidak bisa menemukan tempat sholat di sasang karena bentuknya memang merupakan bangunan gedung biasa, kami memilih pergi ke masjid di Dusil karena di dusil memang benar-benar merupakan masjid (bangunan masjid). Oh ya, masjid di Dusil bernama Masjid Al-Fattah

Rintik hujan tak menyurutkan langkah kaki kami menuju Masjid Al-Fattah. Untuk sampai disana, kami perlu transit di Stasion Samyeon untuk berpindah line subway (Line 2 ke Line 1). Begitu keluar dari Exit 8 Stasiun Dusil, kita cukup berjalan lurus saja. Masjid Al-Fattah terletak kira-kira 300 m dari pintu Exit 8 Dusil.

Syahdu rasanya berada di dalam Masjid Al-Fattah. Ketika adzan dzuhur berkumandang, hati pun terenyuh. Sudah lebih dari 10 hari saya tidak mendengarkan adzan. Lantunan suara adzan pun menjadi sangat mahal dan berharga disini.

Khutbah sholat jumat pada waktu itu bertemakan tentang syukur. Khutbah disampaikan dalam 2 bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Imam dari Masjid Al-Fattah merupakan orang korea. Jadi, terkadang khutbah disampaikan dalam 3 bahasa : Korea, Arab, dan Inggris. Hanya saja saat itu yang menjadi khotib pun adalah orang Indonesia. Rasanya seperti berada di Kampung Halaman :)





Karena saya ada kuliah pukul 3 PM, saya dan teman-teman pun bersegera untuk kembali ke kampus. Kami tidak sempat merasakan restoran maroko yang sangat terkenal. haha.. Mungkin next time.


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar