Buka puasa di Masjid Al-Fatah Dusil

No Comments


Di mana keberadaanya sulit ditemukan. Di saat waktu yang ditempuh haruslah cukup panjang. Di masa kesempatan yang ada sangatlah jarang. Di kala itu, rasa rindu benar-benar terpaut padanya.

Masjid, adalah tempat yang jarang ditemukan di kota ini. Perlu waktu, tenaga, dan biaya ekstra untuk bisa bertamu ke sana. Tapi tak mengapa, sungguh senang rasanya apabila bisa bertamu ke tempat yang suci, ke tempat dimana hati menjadi tenang.

Ramadhan kali ini terama-sangat-berbeda dengan ramadhan sebelumnya. Biasanya, hanya membutuhkan tidak lebih dari 100 langkah untuk menunaikan sholat tarawih berjamaah di masjid, Kali ini saya harus mengeluarkan uang, tenaga, dan waktu berlebih untuk bisa sampai di sana. Tapi tak mengapa, demi rindu itu terbalaskan, hal yang dikeluarkan tersebut tidak ada artinya.

Sampai di sana, Alhamdulillah saya bisa mendengarkan adzan dikumandangkan secara langsung. Tidak lebih dari seminggu sekali saya bisa mendengarkan suara adzan langsung dikumandangkan oleh Sang Muadzin. Kumandang adzan tersebut pun terasa sangat indah, terlebih pada saat tersebut, muadzin adalah orang korea. Aksen khas hanguk-o , terasa sangat kenal. Mengesankan bahwa islam itu merupakan rahmatan lil alamin.

Berbagai bangsa ada disana. Seluruh gradasi warna kulit bisa ditemui. Indah rasanya melihat perbedaan ini disatukan dalam suatu kebersamaan suci, kebersamaan sebagai sesama muslim.

Menu Takjil disajikan sebelum sholat maghrib

Menu utama disajikan setelah sholat maghrib

Duduk melingkar. Buka puasa di Masjid Al-Fatah Dusil ini terasa sangat unik. Makanan ditempatkan pada nampan yang besar. Satu nampan dikelilingi oleh 4 hingga 5 orang. Kebersamaan yang sangat indah. Memang benar penuturan Imam Syafi'i tentang merantau.  Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. 

Menanti sholat tawarih

Ornamen di Masjid Al-Fatah, Busan

Masih menunggu sholat tarawih


Maghrib dan Isya berganti. Tiba saatnya untuk sholat tarawih didirikan. Saat itu terdapat 2 orang imam yang memimpin sholat berjamaan secara bergantian, seorang imam berasal dari timur tengah, seorang lainnya berasal dari Indonesia. Indah. itulah hal yang saya rasakan ketika dan selesai melakukan sholat tarawih disana.

Pengalaman hidup di negeri muslim minoritas ini benar-benar memperkuat kerinduan dan kecintaan saya terhadap masjid. Semoga saya bisa selalu bertamu pada rumah Allah SWT tersebut dan bisa senantiasa memakmurkannya.
Suasana sungat di samping depan masjid Al-Fatah, syahdu.

Aamiin.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar