"Pertama" versi Ramadan dan Lebaran

23.25

"Pertama" versi Ramadan dan Lebaran

Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu


Pada Ramadan kali ini, saya mengalami hal yang "pertama" dalam berbagai hal. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Apabila saya melakukan flash back setahun kebelakang pada bulan Ramadan tahun lalu, tak pernah terbayang kalau saat ini saya akan mengalami Ramadan yang benar-benar berbeda: Jauh dari keluarga, tinggal di negeri orang, menjadi minoritas (muslim), dan berbagai hal lainnya.

Berikut ini saya buat daftar hal "pertama" kali yang saya alami pada Ramadan kali ini.

1. Jauh dari keluarga
For the first time in forever ~~~.. saya menjalani Ramadan selama sebulan penuh jauh dari keluarga. Susana Ramadan yang sudah terpatri dalam benak saya tidak dapat saya temui pada Ramadan kali ini. Suara papah yang selalu membangunkan sahur berkali kali kepada saya (karena saya memang selalu oversleep dan susah bagun), masakan mamah saat berbuka dan sahur, jajan bareng yaya, atau sekedar berkunjung ke rumah teteh untuk bermain dengan dua orang keponakan yang sudah mulai teterekel. Rindu? Tentu saja. Tapi nikmati sajalah keadaan yang ada. Jauh dari keluarga memberikan berbagai macam pembelajaran dan pengalaman hidup yang baru.

2. Masak dan Balanjo
Ini benar-benar baru bagi saya di Bulan Ramadan. Berada jauh di negeri orang pada Bulan Ramadan mengharuskan saya untuk memasak untuk santapan buka puasa dan sahur. Saya dan roomate saya, Acan, bergotong royong, untuk membuat berbagai inovasi masakan setiap harinya. Tetapi ada satu menu yang selalu ada pada setiap sahur dan berbuka, yaitu SOP. Mengapa? Karena bagi kami Sop adalah masakan yang paling mudah untuk dibuat, tinggal memanaskan air dengan teko, tambahkan sayuran, tak lupa dengan garam dan masako (kalo ada). FYI, kita bisa menemukan masako made in Indonesia di Asian Mart, tapi harganya cukup mahal, yaitu 3000 Won (atau sekitar Rp 33.000,-).

Selain Sop, kami juga sering membuat berbagai masakan inovatif lainnya, seperti ayam mozarella, ayam bumbu balado (pake bumbu instan sih), bala-bala, ikan goreng tepung, martabak mie, dll. Rasa-rasanya dengan pengalaman sebulan memasak untuk sahur dan berbuka, kami dapat dinobatkan sebagai Chef (Abal-abal).

Ini dia mahakarya masakan kami (beberapa doang sih.. haha):








Sebelum memasak, tentunya kami harus membeli berbagai macam bahan baku. Karena uang kami terbatas, prinsip ekonomi selalu kami terapkan. Kami selalu berusaha untuk membeli bahan makanan semurah mungkin. Jadi, kami terkadang mendatangi beberapa supermarket terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli untuk memastikan bahwa barang yang kami beli sudah merupakan barang termurah.

3. Menjelaskan tentang Apa itu Shaum kepada Non Muslim
Di Indonesia, shaum Ramadan adalah hal yang sangat biasa. Semua orang tahu itu, tanpa terkecuali. Namun keadaan itu sangat berbeda di Korea. Karena Islam merupakan agama minoritas disini, seringkali kita harus menjelaskan apa itu shaum (puasa), mengapa kita harus shaum, dll. Meskipun begitu, kebanyakan orang korea yang saya temui memiliki rasa toleransi yang cukup tinggi. Mereka sangat menghargai muslim yang sedang berpuasa. Contohnya pada saat saya mengikuti konferensi, teman korea selab saya, berusaha untuk menunda dinner nya agar bisa makan bersama dengan saya saat buka puasa. Salute


4. Sahur dengan muslim dari negara lain

Kerapkali kamar saya kedatangan tamu sesama muslim dari negara lain pada saat sahur, biasanya yang datang adalah mostafa (dari West Sahara) dan Amine (dari Algeria). Mostafa ini memiliki kebiasaan yang sangat unik. Ia sering membuat teh tradisional dari West Sahara sebelum sahur. Ketika mostafa masuk ke kamar kami, Ia terkadang membuka lapak dan menyiapkan peralatan untuk membuat teh nya. Cara pembuatan teh nya tradisional dengan cara menuangkan berulang ulang teh menggunakan gelas gelas kecil.



5. Tarawih di mushola Al-Pukyong
Masjid di Busan lokasinya berjauhan dengan kampus tempat saya belajar. Oleh karena itu, saya datang ke masjid untuk tarawih hanya pada akhir pekan saja. Untungnya, seperti yang pernah saya jelaskan pada postingan ini, kami melakukan sholat bersama di mushola dengan imam yang bergantian dari berbagai negara. Sangat unik. Suasana kekeluargaan sangat terasa di sini.

6. Lebaran sendiri tanpa keluarga
Ini adalah kali pertama pula saya harus berlebaran tanpa ditemani keluarga. Sedih juga sih. Baper sangat. Kebisaan lebaran yang telah saya lakukan selama 22 kali, tidak saya temui tahun ini. Tapi tak mengapa, saya bisa mendapatkan berbagai pengalaman baru disini. Merasakan kehangatan sesama saudara muslim di negeri.

Akhir kata...


“Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan teman. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. (Imam Syafii)”

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Subscribe