Rantau

23.11



Kuawali hal ini dengan satu langkah, disambung dengan puluhan, ratusan, hingga ribuan langkah selanjutnya, untuk mencari sudut pandang lain dalam hidup. Masih melihat langit yang sama. Masih berpijak pada bumi yang sama. Dan masih bernafas dengan senyawa kimia yang sama. Namun, lebih banyak ditemui banyak hal yang berbeda. Ini semua sebenarnya sangat membantu untuk proses pendewasaan diri.


Semakin jauh kita melangkah, semakin berani kita tersesat, semakin kita mengenal diri kita yang sebenarnya. Inilah aku yang sekarang. Tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya bahwa aku akan menjadi anak rantau tersebut.

Teringat kutipan dari imam syafi'i:


MERANTAULAH
(Syair Imam Asy-Syafi’i)

Orang pandai dan beradab
tak 'kan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih jika tidak, dia ‘kan keruh menggenang

Singa tak 'kan pernah
memangsa jika tak tinggalkan sarang

Anak panah jika
tidak tinggalkan busur tak 'kan kena sasaran

Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam, 
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman, 
Orang-orang tak 'kan menunggu saat munculnya
datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang

Setelah diolah dan ditambang manusia ramai
memperebutkan 

Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan

Jika dibawa ke kota berubah mahal seperti emas


Bumi Allah itu sangat luas. Dengan sisa umur yang ada, akupun tak yakin bisa menapaki setiap jengkal tanah yang ada, atau hanya sekedar mengombang-ambingkan diri dilautan yang katanya tak bertepi, ya walaupun kesempatan itu tetaplah ada. 

Terkadang aku tak yakin apakah bumi yang sekarang aku pijak dapat menerima keberadaanku. Atau sebaliknya. Apakah aku cukup percaya diri untuk berdiri di atas tanah tak bertuan ini. Tak ada yang tahu kecuali Sang Pencipta.

Diatas semua ketidakyakinan tersebut, aku meyakini satu hal. Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Terkadang kita tak tahu alasan dibalik sesuatu karena kita tak pernah berusaha untuk mencari tahunya. Kita terkadang terlalu pasrah untuk menerima semua keadaan yang kita alami tanpa mampertanyakan hikmah dan alasan dibalik itu semua.

Merantau adalah salah satu cara untuk kita berpikir ulang dengan hidup kita. Dengan merantau, kita mau tidak mau akan berpindah dari kenyamanan menuju situasi yang lain. Apakah situasi yang baru tersebut akan menjadi area kenyamanan kita? Tak ada yang tahu kecuali diri kita sendiri.

Salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain adalah manusia memiliki kesempatan untuk memilih dalam hidupnya. Memilih merantau atau tetap tinggal diam di kampung halaman. Memilih untuk menjadi lebih baik atau tetap pasrah pada keadaan yang ada saat ini. Memilih untuk menjadi bermakna atau hilang arah.

Ya hidup ini sangat menarik. Hidup ini memerlukan pergerakan. Salah satu ciri kehidupan adalah adanya pergerakan. Tapi kita tetap harus hati-hati karena pergerakan ini tetap mengandung dua konteks. Hal harus dilakukan adalah pergerakan menuju kebaikan, menuju kebermanfaatan, bukan pergerakan menuju kebakhilan.

Aku yang sekarang sudah merupakan aku yang bergerak. Aku yang berusaha menjauh dari kenyamanan demi mencari kenyamanan lain. Semua kenyamanan itu pada dasarkan ingin ku integrasikan dengan kenyamanan yang lebih luas. Pada akhirnya, kuharap aku bisa berbagi kenyamanan denganmu, dan dengan kalian, hingga akhirnya kenyamanan itu adalah milik kita.

Ya tidak ada yang pasti dalam pergerakkan ini, tapi kuyakini satu hal:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11



Cheers,
Dari seseorang yang selalu ingin melangkah.
GR


You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Subscribe