Cemara Ke Enam

22.27

Taman Makam Pahlawan, Cikutra, Bandung

Beliau telah berjalan beberapa langkah di depan kami. Rumput hijau yang diterpa panasnya mentari dihantam oleh kaki-kaki yang kami langkahkan. Beliau terus berjalan lurus kedepan sembari menghitung pohon  cemara yang terletak di antara jalan. Pohon tersebut menjadi patokan lokasi yang akan kami tuju. Pohon cemara ke enam adalah penanda lokasi tersebut.

Sembari memperhatikan papan nisan itu satu persatu di jajaran cemara keenam, beliau terus melangkah. Hingga pada suatu titik beliau berhenti. Disitulah bersemayam kakek saya atau Bapak dari Papah saya. Di nisan tersebut tertulis tahun 1968. Sudah cukup lama. Kakek saya pergi meninggalkan dunia pada saat Papah saya berusia sekitar 8 tahun. 

Entah, memori apa yang masih ada di benak Papah terhadap Kakek saya. Papah terlalu bocah waktu itu untuk memahami kenyataan bahwa sang Bapak, kakek saya, yang seorang anggota TNI angkatan udara harus meninggal pada suatu kecelakaan. 

Saya bangga dengan Papah. Beliau adalah orang yang sangat kuat. Beliau mampu melewati masa kanak, remaja, hingga dewasa tanpa adanya sosok seorang Bapak. Ya, saya sangat bangga dengan beliau. Masa kecilnya penuh dengan perjuangan yang mungkin mengesampingkan kebahagiaan dirinya.

Matanya masih menatap batu nisan itu. Pandangannya kosong. Entah apa yang beliau pikirkan. 

Kami berada disana selama beberapa saat, hingga akhirnya beliau berdiri dan pergi meninggalkan nisan tersebut. Kami pun berjalan pergi, menapaki sisa waktu kehidupan ini.


You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Subscribe