Ied 1438H

1 comment
Segala hal itu patut disyukuri. Saat ini gema takbir menggetarkan malam yang sunyi. Takbir menggema di hampir seluruh penjuru negeri menandakan hari kemenangan itu telah tiba. Kamu mungkin menganggap ini hal yang biasa, namun bagiku terasa spesial.

Masjid Al Fatah, Dusil, Busan, Korea Selatan

Tepat setahun yang lalu, aku menjadi seorang minoritas di negara yang kebanyakan masyarakatnya tak beragama. Peduli amat dengan agama, yang penting negara mereka maju, begitulah secuil pemikiran yang aku tangkap dari mereka. Tahun lalu sangat sepi lagi sendu. Tak bertemu keluarga, tak ada gema takbir, tak ada santapan opor ataupun ketupat. Untuk merasakan suasana malam kemenangan, aku hanya bisa memutar video takbiran di youtube. Setidaknya aku berusaha untuk menciptakan suasana meriah dihatiku.

Tahun ini semua kembali normal. Aku kembali menjadi mayoritas. Gema takbir yang terus meramaikan malam ini awalnya spesial tapi lama lama menjadi biasa. Itulah penyakit manusia, tak pernah merasa puas dengan apa yang ada. Jika aku merefleksikan waktu setahun yang lalu, aku sangat mendambakan takbiran live ini.

Sekali lagi kuucapkan pada diriku bahwa, segala sesuatu itu harus disyukuri. Sekecil apapun itu, begitupun dengan gema takbir ini. 

Hari kemenangan tiba, ini bukanlah suatu akhir. Merupakan awal untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Konon hati kita menjadi bersih di hari kemenangan ini. Mungkin ya, itu benar. Tapi jangan hanya si bersih itu hanya sekedar membungkus sementara si gumpalan kotor yang besar. Jika demikian, si bersih takkan bertahan lama, ia akan melebur dengan si gumpalan kotor kembali dalam waktu singkat. 

So, hancurkan gumpalan kotor itu, dan ciptakan lembaran bersih di hati kita.



Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar