Last Goodbye? or not?

23.12

Pagi itu semua pohon hampir menanggalkan semua daunnya, terutama pohon ginko yang berdaun kekuningan saat musim gugur. Jalanan dipenuhi dengan warna warni daun yang berjatuhan. Pagi itu udara sudah cukup dingin sehingga mengharuskan saya untuk mengenakan jaket yang saya beli dari toko secondhand favorit, sebut saja toko toge.


Di pagi itu, saya mulai membiasakan diri dengan kebiasaan orang-orang disana. Meskipun udara dingin, mereka masih mengantri untuk membeli Ice Americano di berbagai kedai kopi yang ada di sekitar kampus. Bagi saya, kedai Aven Dutch adalah kedai kopi favorit saya. Rasa ice americano nya benar-benar pas. Terlebih harganya yang hanya 1000 Won menjadi daya tarik lainnya.


Kedai Avendutch Coffee di samping Kampus Pukyong National Univ

Selepas membeli ice americano di kedai Avendutch coffee, seperti biasa saya selalu melewati jalan yang masih memiliki pohon dengan daun lengkap. Pohon maple itu gugur terlambat. Pada pohon tersebut, daun daun kemerahan yang amat menawan masih melekat pada ranting-rantingnya. Suasana saat itu benar-benar romantis. Tak jarang suasana tersebut digunakan oleh mahasiswa lokal untuk sekedar bermesraan dengan pasangannya.

Tak lebih dari 10 menit berjalan, saya sudah sampai di dalam lab. Saat itu, Akdong Musician (AKMU) baru saja mengeluarkan single terbarunya yang berjudul Last Goodbye. Lagu tersebut sebenarnya sangat pas dengan keadaan saya saat itu, karena tak lama lagi saya harus mengentikan perjalanan di negeri tersebut untuk menapaki perjalanan di negeri lain (tanah air) untuk memulai episode kehidupan selanjutnya.


Tapi dibenak saya, muncul pertanyaan, Apakah ini benar-benar akan menjadi Last Goodbye? Semoga saja tidak. Sejujurnya, bila masih ada kesempatan, saya masih ingin banyak belajar di negeri itu. Membangun berbagai asa dan harapan yang masih belum sempat diwujudkan.


Semoga saja goodbye pada saat itu akan berganti dengan kata welcome back !


You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Subscribe